Mancing di Kala Cuaca Ekstrem di Perairan Kepulauan Seribu

PS 1

Kabarmancing.com, Kepulauan Seribu – Jika saja kita mendengar cuaca ekstrem atau musim tidak menentu, pasti kita akan menduga bahwa kalender menunjukkan sekitar bulan Desember hingga Februari pada tahun berikutnya. Namun, hal ini tidak demikian, karena bulan April hingga akhir Mei 2016, kita mengalami, melihat dan mendengar di media elektronik maupun cetak terjadi banjir maupun banjir bandang di pelbagai provinsi di Indonesia. Demikian juga wilayah Jabodetabek, sang halilintar masih saja menggelagar di beberapa wilayah yang menimbulkan hujan deras dan banjir di beberapa ruas kota Jabodetabek.

Cari umpan hidup di spot karanganyar

Cari umpan hidup di spot Karanganyar

    Ya, Kamis, 19 Mei 2016 dinihari, sekumpulan pemancing berangkat dari base camp Ma Omah Fishing Club (MFC) pukul 00.45 WIB di Jalan Lingkar Luar Utara, Bekasi Utara, Kota Bekasi. Sebanyak 3 mobil menuju Dermaga ‘Jokowi’ di Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Muara Baru, Jakarta Utara. Perjalanan tak memakan waktu lama, mengingat perlintasan yang dilalui jalan bebas hambatan Gatot Subroto menuju Grogol dan melaju ke Pluit. Kepadatan kendaraan tidak sesibuk di siang hari, sehingga dapat ditempuh dalam tempo satu jam yakni pukul 01.25 WIB.

    Seperti biasanya, rombongan kami selalu memesan penganan untuk mengisi perut agar tidak masuk angin. Ya, sebuah kedai tancap (bukan bioskop layar tancap) milik Teh Kokom, sebuah nama yang akrab disapa oleh pengunjung, baik pengemudi truk angkutan ikan, pekerja di pelelangan ikan yang akan pulang ke Rusunawa Marunda, maupun para pemancing yang akan melakukan trip di perairan sekitar Kepulauan Seribu.

Lumayan, umpan terkumpul cukup banyak

Lumayan, umpan terkumpul cukup banyak

    Usai menurunkan perlengkapan dari mobil, membagi-bagi logistik, dan menata personal yang menempati kapal yang telah ditentukan diatas dermaga ponton yang akrab disebut Dermaga Jokowi, pukul 03.10 kapal yang kami pesan pun bersandar. Dengan sigap para ABK membantu menaikkan barang ke kapal yang dibagi dalam dua rombongan. Kapal yang di nahkodai Kapten Andre dan kapal satu lagi dikemudikan Kapten Usman, dimana komandan di dalamnya adalah Mulyono. Namun beberapa puluh meter lepas dari dermaga, Kapten Andre merasa ada tertinggal, kemudian ia balik ke rumah mengambil barang tertinggal. Inilah yang mengakibatkan rombongan kami tidak dapat mancing secara bersamaan.

 

Spot Karanganyar banyak tenggiri

    Deru mesin pun memecah keheningan malam yang dihiasi kerlap-kerlip lampu kapal-kapal nelayan dan kapal-kapal pemandu mancing di seputaran Pelabuhan Muara Baru. Kala itu jam menunjukkan pukul 03.20, dua kapal yang kami tumpangi melesat meninggalkan dermaga. Rekan-rekan pemancing mengatur posisi sekedar untuk merebahkan tubuh, syukur-syukur dapat tertidur lelap menjelang perjalanan menuju spot pertama untuk mencari umpan hidup.

Santai di kapal

Santai di kapal

    Etape pertama mencari umpan hidup, sang kapten membawa kami pada sebuah spot, menurut penuturannya tempat ini dinamakan spot Karanganyar, kami tiba di lokasi tersebut jam 05.30. Spot tersebut sangat mengesankan untuk kami abadikan. Setelah hasil tangkapan umpan hidup dirasakan mencukupi, satu persatu kapal-kapal kami mulai meninggalkan spot Karanganyar menuju masing-masing spot andalan.

    Spot andalan kelompok Ma Omah Fishing Club (MFC) yang dikomandani Suharto melaju ke spot andalan pertama, lama perjalanan memakan waktu lebih dari satu jam dan kami tiba di lokasi pukul 06.54. Masing-masing anglers pun mulai menceburkan senjata yang telah dipersiapkan seperti Yudi Dermawan, Ato, Abah, Suharto dan para ABK membantu memasang umpan untuk memancing tenggiri, demikian juga Kapten Andre ikut melontarkan pirantinya untuk menangkap sang predator.

    PS 2Di spot Karanganyar cukup banyak tenggiri dapat kami naikkan, rata-rata berukuran sebesar lengan orang dewasa, tatkala tenggiri agak sepi secara bergantian kami merubah seting pancing dengan teknik mancing kotrek yang diberi umpan pada tiga atau empat mata kail. Ikan-ikan kembung, selar, ikan ekor kuning, lencam, dan kurisi banyak kami naikkan dan tidak sedikit pula ikan-ikan berukuran 2 jari orang dewasa seperti kerapu kami rilis kembali.

    Pukul 12.45 kami pindah ke spot Karang Becak Baru, di lokasi ini ternyata arus bawah mati sehingga ikan-ikan sulit didapat, mungkin ini rumus yang tidak pernah ditulis dalam berbagai literatur. Jika arus mati, permukaan air laut sangat tenang/datar(flat) ini pertanda ikan-ikan sulit didapat. Dalam mata rantai (sirkulasi ekosistem) apabila arus mati tak ada pergerakkan plankton. Namun, jika terdapat arus/pergerakan plankton-plankton akan naik keatas disambar oleh ikan-ikan kecil/teri, ikan teri disantap oleh ikan kembung, berikutnya ikan kembung/selar disergap oleh ikan tenggiri atau barakuda, maupun ikan yang lebih besar.

Hasil

Adam pemancing junior

    Yang tidak terduga adalah Kid angler atau pemancing cilik yang sangat mengesankan yang ikut dengan kami, usianya baru 6 tahun, tingkat kepekaannya cukup baik dan memiliki bakat dari kakek dan ayahnya, berulang kali jorannya melengkung dan sanggup mengangkat hasil tangkapannya dengan sangat mengagumkan. Ya, Muhammad Adam, adalah anak kedua dari Suharto, bendahara klub dan pemilik Rumah Makan Ma Omah. 

    Usai dari spot Karang Becak Baru, kami pindah ke spot Kapal Sagu, di spot ini kurang lebih satu jam hasil pun idem ikan sulit didapat dan akhirnya sang kapten mengajukan alternatif dan atas persetujuan pimpinan rombongan (Pak Harto), kami menuju rumpon orang nomor satu di era Orde Baru namun hasilnya tidak jauh berbeda alias nihil. Di pelampung rambu PGN bernomor 5, kapal kami pun mengikatkan tambang agar kapal tidak terombang-ambing. Sekali lagi arus di bawah sana tidak ada pergerakan atau arus mati.

    Tepat pukul lima sore lebih lima belas menit, Suharto memutuskan untuk kembali ke dermaga. Nampaknya trip mancing kali ini hasilnya tidak maksimal. Dari pelampung lima, kapten kapal memacu dengan kecepatan maksimal, kami pun menyempatkan untuk berbaring seadanya dan rekan kami ada merapihkan atau membersihkan perlengkapan mancingnya. Apakah kami jera atau kapok untuk tidak mancing lagi. Ooh tidak! Tetapi begitulah memancing. Sampai jumpa pada trip mendatang.(sony wirawan/foto:dok.sony w)

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply