Kong Tjun : Pemancing Lawas, 12 Tahun Sempat Vakum Dari Dunia Mancing

profil-kongcun

Kabarmancing.com, Depok – Nama Kong Tjun jika ditanya pemancing di era sekarang belum tentu mengenalnya. Tapi coba tanyakan pemancing di era tahun 1980 an, pasti mereka kenal, apalagi yang tinggal di Depok dan sekitarnya. Jika mendengar nama itu mereka pasti menyebutnya sebagai dewa master, suhu atau guru mancing.

    Kenapa disebut begitu? usut punya usut banyak mengatakan, Kong Tjun dikenal sebagai salah satu pembawa angin segar berkembangnya dunia pemancingan di era tahun 80 an. Dan untungnya kabarmancing.com pun bisa jumpa. Ya, beliau diundang ke acara event mancing dari komunitas pemancing di Depok. Itulah awal perkenalan dengan beliau yang kini menginjak usia 70 tahun.

    “Ayo duduk sini,” katanya memperkenalkan diri. Beliau ramah dan banyak menceritakan awal mula kenal mancing. “Saya suka mancing dari kecil,” katanya di awal wawancara. Kesukaannya mancing di kala itu bukan di kolam pancing, pasalnya dulu belum ada, ia gemar mancing di kali dan sungai di daerah Cisalak dan Depok di tahun 80 an. “Jorannya dari bambu dan tidak ada ril. Saat strike saya narik senarnya pakai tangan kadangkala pakai kelosan dari kayu,” imbuhnya mengenang. “Sampai sekarang masih pakai kelosan,” ungkapnya sambil memperlihatkan ke kabarmancing.com.

    Sasaran dicari kala itu, nila liar di sungai dan kali di Cisalak tempat ia tinggal. “Umpan mancing di kali dan sungai pakai tempe aja,” ungkapnya. Selain di Cisalak, ia juga mancing di Muara Gembong Bekasi, Pandeglang, Pamanakun bahkan sampai Jawa Tengah di Sungai Serayu. “Di Serayu saya dan teman-teman mancing nonstop, dari pagi ketemu pagi,” katanya. Saking hobi mancing kesana kemari, Kong Tjun pun membeli mobil jenis station khusus transportasi ia mancing kemana-mana bersama teman-temannya.

    Karena kolam pancing belum ada, Kong Tjun dan teman-temannya kerap mendatangi pembibitan ikan. Oleh pemiliknya pun dikasih untuk dipancing. “Waktu itu umpan di kolam pakai jagung sama ubi. Dulu belum ada kroto,” terangnya tertawa. Nah, di tahun 1990 kolam pancing mulai tumbuh. ia pun menghabiskan waktunya di kolam pelampungan dan galatama di Taman Mini dan Cibubur untuk berlaga dan kerap juara. Apalagi ia dikenal peracik umpan unggulan. Saat mancing bareng dengan temannya ia yang meracik umpan dan dibagi ke temannya. “Umpannya sederhana saja, ubi, jagung, telur mentah dan pake vanili. Pengerasnya pakai mie,” tambahnya yang diakui temannya sebagai umpan mujarab.

    Puas melanglang buana di mancing, Kong Tjun punya keinginan membuka toko pancing, apalagi saat itu tahun 80 an di Cisalak dan Depok belum ada. Sebagai seorang pebisnis mulai dari bengkel, toko kelontong dan bahan bangunan akhirnya beliau membuka toko pancing yang dikenal dengan nama 736 di Pasar Cisalak, Depok. Seiring berjalannya waktu, musibah terjadi pada dirinya di 2004, ia harus menjalani operasi di kaki karena ada benjolan. Sejak itulah ia mundur dan vakum dari dunia memancing guna memulihkan kesehatan. Selama vakum itu anak-anaknya, Tommy, Odie dan Taufik mengikuti jejak ayahnya membuka cabang 736 masih di Depok dan beliau lebih banyak menghabiskan waktu mengurus toko pancing.

    12 Tahun sudah berlalu, Agustus 2016 lalu, Kong Tjun rindu ingin mancing. Ya kabarmancing.com menyaksikan saat ia turun lagi ke kolam. “Rindu banget suasana kolam seperti ini, ketemu teman-teman baru, maklum teman-teman mancing seangkatan saya sudah banyak meninggal. Tapi saya agak kagok saat melempar umpan,” katanya tertawa.

    Itulah Kong Tjun, pemancing lawas yang tidak segan membagi ilmu mancingnya kepada siapa saja, bahkan racikan umpan bikinannya pun tidak pelit ia bagikan. “Saya sering mengajari para pemancing amatiran untuk menggeluti dunia mancing,” pungkasnya.(rambe/foto:dok.kabarmancing.com)

example banner

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply