Gajah Mungkur : Bermalam Diatas Keramba Berburu Hampala & Patin

Somy dengan patin

Kabarmancing.com, Wonogiri, Jawa Tengah – Perjalanan trip mancing ke Wonogiri untuk menyambangi Waduk Gajah Mungkur memang sudah direncanakan sejak dari Jakarta. Ya, selepas menghadiri event mancing air tawar di Sukoharjo lalu siang harinya bertolak menuju spot tujuan.

Waduk Gajah Mungkur

    Trip yang dilakukan beberapa waktu lalu ini atas ajakan Kang Ito bersama rekannya yang ikut serta ada Padjar Riot dan Herviyanto untuk berburu hampala dan patin di Gajah Mungkur. “Yuk ke Gajah Mungkur katanya lagi banyak hampala nih,” ujar Kang Ito mengajak ikut kabarmancing.com seminggu sebelum keberangkatan. Hari H dengan menggunakan mobil, perjalanan dari Jakarta kami arahkan ke Sukoharjo Solo dan esok harinya menuju Wonogiri.

    Selepas acara lomba mancing di Sukoharjo perjalanan dilanjutkan ke Gajah Mungkur. Sepanjang perjalanan dari Sukoharjo ke Wonogiri ditempuh satu jam. Saat memasuki Kota Wonogiri tampak petunjuk jalan mengarah ke lokasi waduk. Tak lama berselang sudah terlihat Gajah Mungkur di depan mata. “Itu tuh waduknya besar sekali ya. Nanti kita turun ke bawah dan cari hampala dan patin,” kata Kang Ito semangat.

Menaiki perahu menuju spot tujuan

    Dari kejauhan tampaknya air waduk lagi surut. Tak lama kemudian sebelum menuju spot terlebih dahulu kami singgah di rumah makan yang menawarkan beragam menu ikan bakar dan goreng. Sambil menunggu rekannya Kang Ito yang tinggal di Wonogiri bernama Somy, kami  segera menyantap hidangan lezat tersebut. Setengah jam kemudian Somy datang menggunakan sepeda motor yang akan membawa kami ke spot tujuan.

Somy (kiri) dan Hervin men-set piranti

    Informasi dari Somy, Gajah Mungkur kondisi airnya lagi surut karena kemarau berkepanjangan. Selain hampala dan patin masih banyak ikan lainnya di waduk ini seperti nila merah, baung, tawes, lele, bawal dan lainnya. “Airnya lagi surut susah cari hampala mancingnya harus ke tengah, tapi kalau mau coba ayo silahkan saja sebentar lagi kita turun ke bawah menuju keramba punya saya. Diatas keramba itu nanti kita mancing,” katanya sambil menunjuk ke arah keramba miliknya yang terlihat sangat jauh dari atas. Yang dimaksud keramba oleh Somy adalah tempat untuk penangkaran ikan dari beragam jenis yang ia miliki. Nantinya kami akan menginap dan bermalam diatas keramba tersebut yang menyediakan rumah seadanya ukuran 3 x 4 meter dan di seputar keramba itulah suka ada hampala dan patin melintas dan menjadi sasaran pemancing.

Menuju lokasi menggunakan perahu kecil

    Selanjutnya segera kami menuju waduk dan sebelumnya membeli perlengkapan untuk bekal bermalam di keramba kemudian lanjut menuju bibir waduk untuk memarkir kendaraan. Ternyata banyak juga yang mancing di Gajah Mungkur. Ini terlihat deretan mobil parkir dan sepeda motor. Setelah menurunkan keperluan untuk bekal semalam berikut piranti pancing, Somy memanggil untuk segera menaiki perahu kecil yang akan membawa ke keramba miliknya yang tidak jauh dari tepi waduk.

Keramba milik Somy yang digunakan untuk bermalam

    Sesampainya disana, Kang Ito, Padjar dan Hervin segera mempersiapkan pancing mereka masing-masing. Dari keterangan Somy, agak sulit hampala didapat dengan kondisi air demikian namun Kang Ito tetap mencobanya dengan teknik casting sore hari itu. Mulai dari sisi kiri keramba ia lakoni melemparkan umpan froggy berupa kodok-kodokan ke waduk dan mengulur dan mengengkol ril hingga menciptakan kecipak air. Berkali-kali ia lempar froggy tak jua ada yang menyambar. Lalu ia pindah ke sisi kanan keramba mencoba lagi tetapi masih tetap sama dan mencoba keberuntungan ke arah paling ujung dan hasilnya sia-sia pula. Sampai waktu jelang Maghrib datang, Kang Ito mulai menyerah dan hampala tidak muncul menyambar froggy miliknya itu. “Belum strike juga nih. Nanti saya coba lagi. Jauh-jauh datang dari Jakarta pokoknya harus strike hampala. Mau istirahat dulu,” katanya dengan wajah penasaran.

Kang Ito casting hampala

    Hal yang sama juga terjadi pada Hervin dan Padjar, mereka berdua mancing dengan menggunakan umpan pelet mencari patin namun hasilnya juga zonk. Agar target bisa didapat, Hervin, Padjar dan Somy menuju perahu dan menaikinya untuk menjauh dari keramba menuju ke tengah waduk dengan sasaran patin. Hampir satu jam disana mereka pun kembali dengan hasil nihil. Hari mulai larut malam namun bagi Hervin dan Somy target belum tercapai mereka masih terus semangat memburu patin yang diperkirakan ukurannya besar-besar.

Hervin dengan patin 3 kg up

    Malam harinya mereka berdua semakin gencar berburu patin disekitar keramba hingga tengah malam menjelang dinihari dan hasilnya pun terwujud. Ya, jam setengah dua malam umpan milik Somy disambar patin, sekuat tenaga beliau mencoba fight tarikan patin. ”Strike…strike…patin…patin,” teriaknya di malam hening itu. Semuanya pun terkejut dan berlari menuju sumber suara teriakan itu. Beliau tampak sedang bertarung keras dengan patin dan berusaha menggiringnya ke pinggir keramba dan berhasil landed. Patin ukuran 3 kg berhasil ia taklukan. “Ukurannya lumayan besar nih,” ujar kami serentak dinihari itu.

Padjar berpose dengan patin Gajah Mungkur

    Patin kedua kembali Somy strike dan kali ini ia serahkan joran miliknya itu ke Hervin. Hervin terkejut saat melihat tarikan patin begitu kuat. Dengan semangatnya Hervin berusaha mengalahkan kekuatannya. “Ayo tarik terus jangan mau kalah Vin,” terak Somy sambil memberi semangat. Patin kedua kembali landed dan segera dimasukkan ke korang besar. Ya, dinihari itu tampaknya patin lagi berseliweran di sekitar keramba. Tak mau kalah Hervin dan Somy masih terus berburu patin. Ikan patin ketiga akhirnya diperoleh Hervin. Suasana keramba menjadi riuh di saat patin ketiga didapat. Saking senangnya Hervin terus mengengkol ril untuk menuntaskan pertarungan patin. Ya, akhirnya patin pun menyerah.

3 ekor patin yang berhasil dipancing

    Puas dangan aksi ketiga strike tersebut, Somy dan Hervin tampaknya masih belum puas juga hingga menjelang pagi masih terus mancing. Jelang subuh keduanya mengakhiri perburuan patin dan selanjutnya membawanya ke rumah keramba tempat kami bermalam untuk ditimbang. Dengan tenaga yang masih tersisa Hervin mengeluarkan ketiga patin dan menimbangnya bersama Somy. Ya, beratnya diatas 3 kg up. Wah, dengan riangnya kami pun masing-masing mengabadikan hasil tangkapan malam itu saat matahari mulai menampakkan dirinya.

    Usai taklukkan 3 patin, jam 6 pagi Kang Ito kembali mencoba mencari hampala dengan casting.  Setelah bolak balik di sekitar keramba, hampala masih juga tidak muncul. Ya, karena kondisi air waduk tidak memungkinkan karena debitnya airnya surut, akhirnya mancing semalam di Gajah Mungkur kami sudahi.

Indahnya Waduk Gajah Mungkur di waktu pagi

    Puas dengan hasil tangkapan 3 patin, jam 7 pagi trip mancing Gajah Mungkur usai kemudian kami berkemas menuju perahu dan kembali ke bibir waduk. Disinilah perpisahan kami dengan Somy. Ya, satu malam beliau sudah menemani kami memancing dan menginap di keramba miliknya itu, “Terima kasih Somy sudah menemani kami bermalam dan mancing di keramba. Lain waktu kami kembali,” ujar Kang Ito sambil menjabat erat tangan beliau dan kami bertiga. Selanjutnya perjalanan dilanjut menuju Tegal via Jogja. “Kalau ada waktu saya pingin banget balik lagi cari hampala dan patin. Masih penasaran nih dengan hampalanya,” ujar Kang Ito sambil melajukan mobilnya menuju Jogja. 

    Nah, bagi rekan-rekan pemancing yang ingin mancing di Gajah Mungkur bisa menghubungi Somy di : 0822 – 42705584 atau 0857 – 29209400.(rambe/foto:dok.kabarmancing.com)

example banner

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply