Mengenal & Memahami Pasang Surut dan Aktifitas Memancing di Laut

Kabarmancing.com, Solo – Pasang surut merupakan fenomena alam yang disebabkan perpindahan bulan mengelilingi bumi dan posisi matahari terhadap bumi. Bagi pemancing di pantai, muara dan laut tentu mengenal dengan pasti kapan memancing yang tepat, karena kalau salah waktu tentu berakibat minimnya ikan yang dapat dinaikkan. Selain pemancing, para nelayan dan peneliti biologi laut juga memanfaatkan pasang surut untuk mencari dan meneliti biota atau makhluk hidup di sekitar pantai.

Berita Terkait : Mengupas Seluk Beluk Ekologi Ikan Baronang (Rabbitfish)

    Dulu saat skripsi saya mengambil judul  “Perbandingan Sebaran, Keragaman dan Biomass Biota Laut di Zona Pasang Surut antara Pantai Lepas dan Teluk” yang mengambil sample di Pantai Selatan di Jawa Tengah, Yogyakarta dan Jawa Timur. Saat itu saya harus mengenal betul kapan waktu pasang dan surut, kapan pasang tertinggi dan kapan surut terendah karena untuk meneliti flora dan fauna (biota laut) di zona pasang surut harus dicari surut paling surut (surut terendah) sehingga saya dapat meneliti pantai sampai menjorok lebih dari 200 meter dari garis pantai (mendekati reef front). Sedangkan saat surut biasa, mungkin hanya 50-100 meter saja daerah yang dapat diteliti (sekitar reef flat/rataan terumbu sampai reef crest/puncak terumbu)

    Pada saat surut terendah inilah banyak kolam-kolam kecil yang menjebak berbagai jenis hewan laut sehingga para nelayan banyak memanfaatkan untuk mencari ikan, cumi, kepiting, udang karang dan berbagai biota lain yang laku dijual, sementara pemancing tradisional memanfaatkan daerah tubiran (reef front) atau para pemancing menyebut daerah drop off untuk memancing ikan GT dan ikan pantai lainnya.

    Daerah tubiran adalah daerah dimana akhir dari rataan terumbu karang terus ke daerah yang kedalamannya menukik sampai lebih dari 100 meter (tergantung topografi pantainya). Saat surut terendah itulah air laut sampai mendekati daerah tubiran, yang jaraknya dari pantai pasir bisa 100-200 meter tergantung bentuk pantainya.

    Para pemancing pasiran (beach casting) biasanya hanya memancing di sekitar rataan terumbu (reef flat) saja sehingga ikan yang didapat juga kecil-kecil. Khusus untuk pemancing tebing karang (rock casting), biasanya daerah yang dipancing langsung ke zona reef front sampai steep reef front sehingga banyak ikan-ikan besar yang dapat dinaikkan di zona ini.

    Daerah pasang surut dimana terdapat maximum high tide dan low tide. Maximum high tide adalah batas atas air pasang dan low tide adalah batas bawah air surut. Tsunami terjadi jika maximum high tide-nya sampai melebihi garis pantai, atau bahkan setinggi pohon kelapa seperti yang terjadi di Aceh.

    Pada saat pasang tertinggi inilah para pemancing di muara juga beraksi memainkan joran untuk menarik ikan ke daratan. Saat pasang tertinggi biasanya banyak ikan dari laut yang masuk ke muara-muara sungai, sedangkan ikan dari sungai akan menuju mulut muara karena menunggu pasokan zat hara atau makanan dari laut, sehingga daerah muara saat itu sangat berpotensi menjadi hot spot yang menjanjikan.

 

Memahami pasang surut

    Air pasang (high tide) dan air surut (low tide) nampak jelas di pantai oleh adanya permukaan air laut yang naik dan turun secara teratur, biasanya 2 kali sehari. Secara vertikal, naik turunnya permukaan air laut mungkin berkisar 1-3 meter. Perbedaan air pasang dan surut tertinggi di dunia pernah dilaporkan sekitar 15 meter di Teluk Fundy di Kanada.

    Pasang surut disebabkan oleh perpindahan atau gerakan bulan mengelilingi bumi, juga posisi matahari terhadap bumi. Bila diukur berdasarkan jumlah massa air dan jaraknya dari bumi, ternyata kekuatan yang ditimbulkan oleh pasang surut matahari dibawah separuh kekuatan pasang surut bulan. Berdasarkan pergerakan alam semesta ini maka dikenal 2 pasang surut yaitu pasang surut purnama (Spring Tide) dan pasang surut perbani (Neap Tide).

    Pasang surut purnama terjadi jika bumi, bulan dan matahari terlihat seperti garis lurus sehingga gaya tarik bumi dan bulan saling menguat sehingga menyebabkan tinggi air sangat luar biasa, demikian pula surutnya juga sangat jauh ke laut. Demikian pula sebaliknya, bila bulan dan bumi membentuk siku, maka gaya tarik keduanya akan saling meniadakan sehingga perbedaan pasang dan surut sangat rendah.. Berdasarkan hal inilah, maka dibuat ramalan ketinggian pasang dan surut di berbagai kota pantai di Indonesia. Data paling mendekati siklus ini biasanya dibuat buku panduan pasang surut, karena tiap-tiap pantai tentu berbeda.

    Sekarang pertanyaannya, mengapa  kebiasaan memancing di laut yang terbaik di lakukan di bulan gelap ? Hal ini juga tergantung dari target ikan yang akan dipancing, karena berhubungan dengan tingkah laku ikan. Kalau dengan menggunakan fish finder ternyata dibawah sana banyak ikannya, mengapa tidak memancing di bulan purnama ?

    Dengan adanya pasang surut, maka terjadi perubahan tinggi permukaan laut, sehingga menyebabkan pergerakan masa air laut yang biasa disebut arus laut. Arus ini sangat penting bagi ikan-ikan pelagis, karena berhubungan dengan pergerakan nutrisi, plankton dan tentu pergerakan ikan-ikan yang menjadi target. Sehingga saat arus kuat, cara mancing trolling biasanya sangat efektif, demikian pula bila arus lemah atau diam seperti kaca, flat maka saat yang baik untuk memancing  dengan kaedah mancing dasar.(sumber:eko budi-solo/foto:dok.jajat)

Bahan Bacaan :

  • Meadows, P.S & J.I.Cambell 1988. An Introduction to Marine Science. John Willey & Sons. NY.
  • Sumich.J.L.1982. An Introduction to the Biology of Marine Life. Grossmont College. Wn.C.Brown Publ
example banner

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply