‘Seninya Mancing’ Bagaimana Kita Memandang & Menyikapinya

Kabarmancing.com, Gombong, Jawa Tengah – Semua aktivitas manusia baik oleh fisik maupun pikiran selalu ada ‘seni’ nya. Seni dimaksud bisa saja positif atau menyenangkan dan bisa sebaliknya. Namun apa pun dampaknya seni semacam itu akan mewarnai kehidupan ini dan tergantung bagaimana kita memandang dan menyikapinya. Dan di dunia mancing akan selalu kita jumpai hal-hal atau peristiwa yang kadang-kadang tidak masuk akal, aneh dan tidak bisa dimengerti.

    Ada empat orang pemancing sejak pagi berjam-jam hingga matahari mulai menyengat tapi tak satu pun dari kail mereka disentuh ikan. Namun hal itu sudah jamak dan biasa bagi para pemancing. Dan dalam hati mereka membenarkan kepercayaan bahwa mereka belum beruntung. Seorang anak muda datang, menyiapkan pancingnya memasang umpan dan kemudian melemparkan ke laut tidak jauh dari senar-senar mereka yang asik tenggelam tanpa ada ikan yang menghiraukan.

    Dalam hitungan detik joran anak muda tadi langsung melengkung…nyuuuuttt….strike, dimakan ikan besar! Adu kuat dan ketrampilan terjadi dan akhirnya ikan seberat 5 kg naik terangkat ke pelukan anak muda itu, yang baru saja 20 menit melontarkan pancingnya. Mereka yang telah 4 jam berpanas ria hanya saling berpandangan tanpa kata dan tidak habis pikir…kok bisa ya!

    Ya, disadari atau tidak itulah seninya memancing. Dan seninya tidak hanya terletak pada bagaimana ‘menghajar’ ketika strike tapi juga bagaimana mungkin begitu umpan ‘cemplung’ dan disambar tanpa menghiraukan ‘perasaan’ mereka yang telah berjam-jam dengan sabar dan penuh harap, dan bukan tidak mungkin dalam hati mereka ada yang berdoa. Tapi hal itu harus diterima dengan legowo. Kalau bisa menempatkannya sebagai salah satu dari seninya mancing ya tentunya tidak terlalu merisaukan bahkan bisa menjadi bahan cerita ke teman-teman pemancing.

Berita Terkait : Psikologi Mancing, Apa Pula Itu ? Ada-ada Saja

    Dan ketika kami sedang aktif-aktifnya mancing dan menyebut diri kami the three musketeers, telpon-telpon sejak pagi dan sepakat sebagaimana biasa kumpul jam 2 langsung ‘naar de zee’ mancing ke pantai selatan. Pilihan kita jatuh pada Pantai Logending Kebumen, di samping ombaknya relatif kecil juga kita terpikat karena keindahannya.

    Di akhir perjalanan jalan menurun tajam sekali dan harus ekstra hati-hati. Begitu parkir kita segera turun melangkah ke bibir pantai, tapi tiba-tiba kita dikagetkan bunyi…gubraaak. Dan kami sempat menyaksikan seorang gadis jatuh bersama sepeda motornya karena tidak bisa mengendalikan laju motornya. Orang-orang di sekitar berhamburan menolong, sang gadis luka parah dan segera dipinggirkan.

    Kami bertiga “hanya” bisa melihat dari jauh karena kami sendiri mempunyai ‘tugas’ yang sulit untuk ditinggalkan. Waktu kami cuma 4 jam untuk mancing dan kemudian cabut kembali ke habitat yang jaraknya 30 km. Kami pura-pura berlaga pilon dan melanjutkan langkah kami. Ternyata ada 2 orang lari mendekat dan minta tolong dengan sangat untuk mengantarkan ke rumah sakit terdekat di Gombong dimana kami bermukim. Wajah teman kami langsung cemberut bagaikan rembulan tertutup awan. Kami bertiga cuma berpandangan, meski tanpa kata terjadi ‘kesepakatan’ kalau kami berdua tetap mancing sedangkan dia mengantar ke Rumah Sakit PKU Gombong.

    Ketika kami mancing kami juga merasa ikut prihatin, merasa tak eloklah kawan lagi kesebelan kitanya ‘bersenang-senang’. Kami tak habisnya mengomentari kawan yang ‘apes’ tadi. Meski kami ikut sedih tapi akhirnya kami melihatkan ‘keaslian’ kami yang suka humor ini. Akhirnya malah  tertawa terbahak-bahak. Tidak bisa membayangkan bagaimana kawan kita tadi selama perjalanan ke rumah sakit dan bagaimana selama perjalanan membayangkan kami yang lagi asik strike sambil bernyanyi-nyanyi. Memang kami biasa kalau ada yang lagi strike pasti ‘nyanyi’ yang maksudnya senang karena dapat ikan tapi juga “warta berita” ini loh aku dapet! Semakin kami membicarakan semakin tidak tertahankan ketawa kami.

    Tiga jam kemudian kawan kami muncul dengan muka yang ditekuk senyum kecut sambil geleng-geleng kepala. Semakin dekat ketawa kami semakin berderai. Padahal kawan kami tadi termasuk orang yang penyabar dan pendiam eh toh tidak bisa menyembunyikan kekesalannya. Ceritanya sebenarnya panjang bagaimana dia selalu dipanggil “pak sopir” oleh orang-orang yang minta tolong tadi. Wah tambah keki dia. Untuk meredamnya kami berdua berkata “nggak apa-apa nggak mancing yang penting telah menolong orang, kan dapat pahala”

    Yah itu seni lagi dari memancing, mau mancing tidak jadi, capek, belum BBM nya. “Dah ikhlas saja” kata kami, dan karena kami masih saja tertawa geli dia akhirnya ketawa juga sambil tangannya memukul-mukul stir mobil. “Itu belum seberapa” kata saya, dulu saya pakai hardtop bannya kempes mana jauh dari bengkel akhirnya dongkrak sendiri. Nurunin ban serep dan ganti ban, sendiri lagi, apa tidak lebih sengsara. Nggak apa-apa itu seninya mancing.

    Mancing memang akrab dengan sial dan keberuntungan. Kalau lagi “lucky day” dapat banyak, hati puas, lalu tidak sabaran lagi menunggu hari esok untuk “back to sea”  Kalau lagi sial ada saja memang. Jadi ingat teman yang dapat gede ditaruh jaring kecil yang bisa diikat lalu ditaruh di karang, begitu ada ombak ikan beserta jaringnya ngikut kebawa ombak, diakalin jaringnya kena tapi ikannya…wasalaam ditelan ombak “O pancen iwak ora gelem di goreng (ikannya ngga mau digoreng),” kata temanku sambil tertawa.(bambang sugeng-gombong/foto:dok.kabarmancing.com)

example banner

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply