In Memoriam Bobby Halim (Captain BH) ‘Selamat Jalan Pak Bobby’

Kabarmancing.com, Jakarta – Minggu, 26 Mei 2019, dunia mancing Indonesia kembali dibalut duka yang mendalam dengan kepergian salah seorang putra terbaiknya yang pernah dimiliki bangsa dan negara yaitu Bobby Halim, salah seorang tokoh yang memiliki andil cukup besar dalam mengembangkan kegiatan olahraga memancing di republik tercinta ini.

    Kepergian Almarhum Bobby Halim (70 tahun) yang juga dikenal dengan julukan Captain BH menghadap sang khaliq, tidak saja meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, kerabat, kolega, sahabat maupun rekan sejawatnya. Tapi juga bagi Federasi Olahraga Mancing Seluruh Indonesia (FORMASI) yang turut didirikannya bersama Ir. Adi Warsita Adinegoro, Ponco Sutowo, Adiguna Sutowo, Ali Aldjoefry, Awin Mawardi (Alm), Chepot Hanny Wiano, DJ Pamoedji, Dali Sofari, Irma Hutabarat, Yapto S Soeryosoemarno SH, Kiki Adjie, Ir Nursasongko Anwar, Pudjo Basuki MBA (Alm), Ir Sofri Bahar, Yahuda TirtadihardjaIr Yuwono Kolopaking (Alm) dan Dadi Kartahadimaja (Alm).

Berita Terkait : Pelajaran Berharga di Catatan Kecil Saya Bersama Bobby Halim (Alm)

    Semasa hidupnya, almarhum dikenal sebagai sosok berkepribadian sangat kuat, lurus, baik dan selalu tampil low profile. Beliau juga dikenal karena sifat dan sikapnya yang tegas, konsisten, serta memiliki dedikasi yang tinggi dalam mengembangkan olahraga mancing di tanah air. Beliau juga diketahui memiliki kemampuan yang sangat baik dan tidak pelit dalam memperkenalkan dan membagikan pengetahuan teknologi berbasis satelit seperti Sounder (Fish Finder dan GPS) yang didapatnya selama melanglang ke Australia pada dunia mancing di negeri ini.

    Pada tahun 1990-an ketika almarhum kembali dari Australia, saat itu masih banyak pemancing belum memahami cara pengoperasian perangkat Fish Finder dan GPS. Almarhum pun bersama rekan-rekannya Pudjo Basuki (Alm), Sulaeman Tamin, dan Susanto Nursewan, kemudian mengadakan seminar untuk memperkenalkan dan mengajarkan kaidah mancing dasar dengan menggunakan peralatan elektronik Fish Finder dan GPS.

    Tidak tanggung-tanggung, ketika untuk pertama kalinya digelar turnamen mancing internasional bertajuk ‘Bumi Palakha Game Fishing Tournament’ di Pelabuhan Ratu tahun 1994, beliau bersama rekan-rekannya pun mendatangkan pemancing dan ABK profesional dari Australia, untuk memberi pelajaran dan mendidik bagaimana cara menjadi kapten dan ABK mancing profesional yang baik dan handal bagi nelayan Pelabuhan Ratu.

    Usaha yang tak mengenal lelah dari almarhum bersama rekan-rekannya tersebut berbuah manis. Di kemudian hari, kapten dan ABK asal Pelabuhan Ratu tersebut menjadi incaran para pemilik kapal pesiar dari dalam dan luar Jakarta, bahkan sudah menyebar hingga ke seluruh wilayah Indonesia. Dalam perkembangan dunia mancing tanah air, nama beliau tidak bisa dipandang sebelah mata. Lewat tulisan-tulisannya tentang tata cara penggunaan perangkat elektronik berbasis satelit untuk kegiatan memancing, secara langsung atau tidak langsung telah membuat para pemancing dan nelayan pancing di tanah air menjadi melek teknologi.

    Sebagai seorang pemancing, Bobby Halim adalah seorang pemancing profesional yang sempurna, inovatif, berdisiplin tinggi. Karena itu tak salah jika kemudian banyak yang mengatakan bahwa di Indonesia jarang ada pemancing yang memiliki pandangan, sikap dan sportifitas tinggi, sebaik dan sesempurna seperti yang dimiliki oleh seorang Bobby Halim. Karena itu tak mengherankan jika semasa hidupnya pada awal 1990-an almarhum dipercaya untuk duduk sebagai Dewan Redaksi pada 2 Majalah Mancing terkemuka di tanah air. Selain itu, beliau juga pernah menjabat sebagai Ketua II FORMASI selama beberapa periode dan duduk sebagai Dewan Rekor Nasional serta Dewan Penasehat pada Kepengurusan FORMASI Periode 2012 sampai akhir hayatnya.

    Tanpa bermaksud mengkultuskan seseorang, melihat dan mengetahui dari dekat sepak terjang almarhum saat melakukan kegiatan memancing atau saat mengikuti turnamen mancing, memang menunjukkan bahwa almarhum bukanlah seorang pemancing biasa/sembarangan. Hal itu penulis buktikan sendiri, saat menjadi Pengamat/Pengawas bagi almarhum saat mengikuti turnamen mancing Piala Agung Laksono 16 – 18 Oktober 2010 lalu di Jakarta.

    Ketekunan dan ketelitiannya dalam mencari hot spot berpotensi ikan target pancingan, memang benar-benar hebat. Setiap hot spot potensial ikan target pancingan yang ditemukannya, langsung  dicatat dalam buku data panduan yang selalu tersimpan rapi dan dibawa kemana pun kapal dan empunya pergi memancing. Sikap konsistennya saat memancing juga betul-betul menunjukkan kualitas beliau sebagai seorang pemancing profesional yang patut ditiru. Artinya, jika sedang melakukan perburuan ikan kakap merah, maka fokus perburuan dan piranti yang dibawa (boleh dibawa)/digunakan pun hanya khusus untuk memancing ikan tersebut.

    Begitu pun jika sedang memancing ikan tenggiri atau marlin, piranti yang digunakannya hanya untuk memancing satu jenis saja dan piranti mancing lainnya harus ditinggalkan. Hal serupa juga berlaku untuk hasil pancingan yang didapat. Almarhum sangat membatasi jumlah tangkapan yang dapat dibawa pulang ke darat. Dari sikap konsisten, ketekunan dan ketelitiannya seperti itulah membuat almarhum bersama Sulaeman Tamin, Awin Mawardi dan Susanto Nursewan berhasil meraih Juara II dalam turnamen mancing kelas dunia di Cairns, Australia.

    Dan karena reputasinya sebagai pemancing kelas dunia serta pengalamannya memancing di berbagai negara itu jugalah membuat penulis sempat ragu untuk melanjutkan tugas sebagai Pengamat/Pengawas bagi almarhum pada turnamen mancing Piala Agung Laksono 2010 lalu. “Jadi apa lagi yang harus saya amati/awasi dan yang harus disangsikan dari seorang juara dunia seperti Bobby Halim?? Apakah mungkin seorang Bobby Halim akan berbuat curang?“ begitu kata bathin saya ragu.

Bobby Halim (Alm) bersama Ir Bachder Sitepu (kiri) & H Arso Sadewo Ketua Umum FORMASI (kanan)

    Pada bagian lain, ada pandangan-pandangan bersifat moderat yang disampaikan beliau pada penulis, saat bertemu dalam acara Ruanas V FORMASI pada 2012 lalu. Terutama dalam menyikapi tantangan di masa depan yang harus dihadapi oleh semua Pengurus dan Anggota FORMASI. “FORMASI ini aset nasional yang sangat berharga bagi bangsa dan negara Indonesia. Karena itu kita harus berpikiran positif, bisa menghargai dan menghormati hasil kerja keras yang sudah dilakukan para pengurus FORMASI selama ini. Kita harus ingat dan mau melihat jauh ke depan, agar FORMASI bisa lebih maju, lebih besar dari sekarang, dan bisa dikenal lebih luas lagi oleh masyarakat nasional maupun internasional,” demikian petikan komentar diplomatis almarhum kepada penulis, saat jeda istirahat pada Ruanas FORMASI Oktober 2012 lalu.

    Sebagai pemancing kelas dunia, kepribadian beliau tetap tak berubah. Walau namanya tersohor hingga ke mancanegara, namun kesederhanaannya tak pernah luntur. Tak hanya penulis, pemancing-pemancing profesional lain dan para sahabatnya yang mengenal sosok beliau lebih dekat pun juga berpendapat serupa. “Bapak Bobby Halim sosok berkepribadian baik, humoris, santun, sederhana namun memiliki sifat dan sikap tegas yang layak diteladani. Almarhum juga merupakan salah satu tokoh yang turut berperan dalam melahirkan dan membesarkan FORMASI, seperti yang kita kenal sampai sekarang,“ ujar beberapa rekannya.

    Beberapa tahun terakhir kiprah almarhum dalam dunia mancing memang sudah jauh berkurang. Hal itu dikarenakan, konsentrasi almarhum terpusat pada usaha pembuatan kapal untuk memancing dan kapal pesiar yang dirintisnya sejak 2003 lalu dengan bendera PT. Marathon Pacific Marines (MPM). Menurut almarhum, usaha pembuatan kapal ini bermula dari rasa keprihatinannya melihat banyak kapal mancing yang tidak sesuai dengan standar peruntukannya. Contohnya, kapal untuk wisata (cruiser) yang cocok untuk bersantai/pesiar digunakan untuk memancing.

    “Kapal mancing itu berbeda dengan biasa. Harus ada area yang luas supaya bisa memandang ke segala penjuru. Juga harus memiliki tempat khusus memelihara umpan, tempat penyimpanan ikan agar tetap segar serta perangkat navigasi, komunikasi dan keselamatan yang memadai. You harus tahu, setiap kali pergi mancing, saya menjelajah laut sejauh/seluas tidak kurang dari 150 Nm dan menghabiskan fuel (bahan bakar) tidak kurang dari 2 ton. Karena itu, kapasitas tanki kapal yang saya buat rata-rata berukuran jumbo agar mampu memuat BBM dalam jumlah besar,“ jelas almarhum pada penulis saat mengikuti turnamen mancing 2010 lalu.

    Di tahun 1995, kapal rancangan pertamanya berukuran 2,4 x 10 meter yang diberi nama Marathon 43 selesai dibuat dan menarik perhatian sesama pemancing, sehingga akhirnya dijual. Begitu pun dengan kapal rancangan kedua, ketiga dan seterusnya, diminati dan dibeli pemancing lainnya. Setelah itu, order pemesanan kapal berdatangan ke perusahaan MPM miliknya. Di kemudian hari, ternyata peminat kapal produk MPM meluas hingga ke kalangan perusahaan dan instansi. Salah satunya adalah kapal VVIP Yudhistira yang dioperasionalkan oleh TNI-AL.

    ‘Selamat Jalan Pak Bobby Halim’(m.iskandar.z-cirebon/foto:dok.iskandar)

example banner

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply