Pelajaran Berharga di Catatan Kecil Saya Bersama Bobby Halim (Alm)

Kabarmancing.com, Cirebon – Berdiri diatas speedboat sambil mengamati dan mengamati pemancing yang tengah berlaga dalam sebuah lomba, mungkin itu hal wajar dan biasa saja. Tapi bagaimana jika yang menjadi obyek pengamatan itu adalah seorang pemancing senior dan terkenal yang bersama beberapa rekannya pernah menjadi juara pada turnamen mancing kelas dunia di Australia dan juga salah seorang tokoh senior FORMASI pula, apa jadinya ? dan pengalaman apa yang bisa didapat ? 

    Bekerja temporer sebagai pengamat atau pengawas pada sebuah turnamen mancing, boleh dikata pekerjaan yang paling enak, nyaman, santai dan mengasyikan. Apalagi jika pemancing yang menjadi obyek pengamatan/pengawasan, bersikap ramah, familiar, koperatif, jujur, ulet dan kreatif.  So pasti, tugas yang diemban para pengamat/pengawas, semuanya terasa ringan, menyenangkan dan jadi kebanggaan tersendiri. Setidak-tidaknya, gambaran seperti itulah yang saya (penulis) alami saat berlangsungnya turnamen mancing Piala Agung Laksono 16 – 18 Oktober 2009 lalu di Marina Batavia, Jakarta.

Berita Terkait : In Memoriam Bobby Halim (Captain BH) ‘Selamat Jalan Pak Bobby’

    Mengingat pengalaman 10 tahun lalu sebagai pengamat/pengawas tersebut, tidak hanya memberikan sekedar pengalaman dan kebanggaan saja, tapi juga memberikan kejutan dan pelajaran luar biasa sangat berharga bagi saya. Betapa tidak ? Saat itu, ketika sebagian besar pengamat/pengawas sudah mendapatkan pembagian tugas di kapal mana mereka ditempatkan dan siapa pemancing yang akan jadi obyek pengamatan/pengawasannya. Ketika itu saya hanya bisa duduk diam menunggu kepastian tugas yang diberikan panitia turnamen, hingga Wawan “Kakang“ Kurniawan dan Rony Mucharam selaku panitia memberitahu bahwa saya ditugaskan sebagai pengawas bagi Bobby Halim dengan bendera Tim Krakatau.

    Mendengar nama Bobby Halim disebut, kontan saya merasa bagai disambar petir. Untuk sesaat timbul keraguan dan rasa canggung pada tugas yang akan saya jalankan, disertai perasaan setengah tak percaya, bahwa akhirnya saya bisa sedekat itu dengan almarhum. Hal itu wajar, mungkin karena terpengaruh reputasi beliau sebagai pemancing profesional yang dikenal memiliki kedisiplinan dan sportifitas tinggi, serta selalu konsisten antara tujuan dengan yang dikerjakannya. Apalagi beliau juga berpengalaman mancing di mancanegara dan bahkan pernah menjadi salah satu juara turnamen mancing kelas dunia di Australia, serta pernah duduk sebagai pengurus FORMASI yang notabene tahu dan paham betul seluk-beluk peraturan memancing.

    “Jadi apa lagi yang harus saya amati/awasi dan yang harus disangsikan dari seorang Bobby Halim ?” begitu kata batin saya. Namun semua keraguan itu segera pupus, saat bertemu dan disambut senyuman ramah beliau. Saya langsung diajak meninjau kesiapan boat “Marathon 38“ miliknya yang akan digunakan untuk lomba.

 

Mendapat pelajaran berharga

    Sabtu, 17 Oktober 2009 tepat jam 04.30, saya disambut Pak Mamat (crew boat Marathon 38) di Dermaga Marina Batavia. Sejam kemudian, Bobby Halim langsung naik ke kapal melakukan pemeriksaan ulang atas seluruh kesiapan kapal dan awaknya termasuk perbekalan yang dibawa selama mengikuti lomba. Sesaat kemudian, mesin dihidupkan dan kapal beranjak meninggalkan dermaga menuju laut lepas untuk menjalani lomba di hari pertama. Direncanakan dalam tempo 1,5 jam, kapal sudah tiba di lokasi pertama berupa Tandes Buntut yang diperkirakan menjadi hunian kakap merah jumbo.

    Bobby Halim bukanlah seorang pemancing biasa atau sembarangan. Hal itu terlihat dari setiap tindakan baik yang akan atau sedang dijalankannya, selalu didahului dengan persiapan, perhitungan serta kontrol yang sangat ketat dan matang tanpa ada terlupakan. Hal itu tentu menimbulkan semangat saya untuk belajar dan mengetahui lebih dalam tentang pengetahuan serta teknik mancing dan sosok beliau sebagai pemancing profesional.

    Sepanjang perjalanan menuju hotspot, saya melihat konsentrasi beliau selalu terpusat pada perangkat elektronik di kapalnya. Setiap muncul tampilan di layar sounder yang diyakini berpotensi ikan target pancingan, dengan segera koordinatnya langsung disimpan di memori GPS-nya. Sesekali dengan suara beratnya beliau menjelaskan pada saya yang khusyuk mengamati sounder, makna dari setiap tampilan gambar yang muncul di layar monitor.

    Hal yang sama juga terlihat saat mulai memancing. Meski tangan kanannya memegang joran, namun konsentrasi pandangannya tetap fokus pada layar sounder dan GPS-nya. Sedang tangan kirinya tak pernah lepas dari kemudi, untuk menjaga agar kapal tetap berada pada posisinya. Konsentrasinya baru beralih manakala kailnya disambar ikan target tangkapannya. Itu pun hanya sekejap. Karena setelah ikan berhasil diangkat, perhatiannya kembali tertuju ke perangkat elektronik untuk mengkoreksi posisi kapal. Hal seperti itu selalu diulanginya, setiap kapal berpindah ke lokasi-lokasi lain.

Penulis (kiri) bersama Alm Bobby Halim (kanan)

    Sebagai pemancing profesional yang sangat menjunjung etika, beliau sangat menjaga reputasi dan kredibilitasnya. Hal itu ditunjukkan dengan sikapnya yang disiplin dan konsisten saat memburu ikan target pancingan. Jika yang dicari kakap merah, maka jenis ikan itulah diburunya. Bila diinginkannya trolling ikan marlin, maka tak ada satu pun peralatan mancing lain dibawanya selain peralatan trolling. Sikapnya ini tidak hanya berlaku untuk diri sendiri, tapi juga ditularkan pada rekan-rekan pemancing lain yang turut bersamanya.

    Selain itu, dalam melakukan perburuan ikan target pancingan, Bobby Halim juga memiliki etika, prinsip dan kriteria yang patut diacungi jempol dan dicontoh oleh pemancing lain. Dia selalu lebih mengutamakan segi kualitas memancing daripada kuantitas (jumlah) tangkapan. Karena itu, setiap memancing dia selalu membatasi jumlah ikan tangkapan maksimal 10 ekor yang berukuran jumbo, seperti yang saya alami ketika diberi kesempatan mancing saat jeda istirahat pada turnamen mancing Agung Laksono Cup Oktober 2009 lalu.

 

Kesimpulan

    Sejujurnya saya akui, bahwa bisa bertemu dan berbincang dengan beliau saja sebenarnya sudah cukup menggembirakan, apalagi sampai bisa satu kapal dengannya. Karena itu, melihat dan mengetahui sepak terjang almarhum dari dekat selama mengikuti turnamen adalah momen pelajaran paling berharga. Saya dapat menyaksikan langsung sosok seorang pemancing yang sukses mengelola hobinya secara profesional.

    Kepiawaian almarhum dalam membaca dan menganalisa setiap tampilan di layar sounder, ketekunan dan ketelitiannya dalam mencari hotspot berpotensi ikan target pancingan, serta kerajinannya dalam mencatat dan membukukan setiap koordinat lokasi hotspot langsung menyadarkan saya. Bahwa sebagai pemancing, sudah saatnya dan selayaknya kita harus memiliki pola memancing yang baik dan benar. Kita harus meninggalkan pola lama yang cenderung tanpa etika, dengan memanfaatkan situasi ‘Mumpung ada kesempatan – mumpung cuaca lagi bagus – mumpung lagi musim ikan’ dan lain sebagainya.(m.iskandar.z-cirebon/foto:dok.iskandar)

example banner

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply